Chanmedia.online,Direktorat Reskrimum Polda Metro Jaya mengungkap jaringan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Tarumajaya, Bekasi. Sindikat internasional ini melakukan praktik jual-beli organ ginjal untuk dijual di Kamboja.
Informasi yang diperoleh detikcom, jaringan penjualan ginjal ini dibongkar polisi pada Senin (19/6) dini hari. Di sebuah rumah di Perum Vila Mutiara Gading Jalan Piano IX Desa Setiaasih, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sindikat internasional ini menampung WNI yang akan dijual ginjalnya ke Kamboja.
Seorang pelaku ditangkap polisi dalam penggerebekan tersebut. Masih di lokasi yang sama, polisi juga mengamankan sejumlah korban WNI yang akan dikirim ke Kamboja untuk dijual ginjalnya.
Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto mengatakan kasus ini masih dalam penyelidikan tim Direktorat Reskrimum Polda Metro Jaya yang dipimpin oleh Kombes Hengki Haryadi.
Sayangnya, Karyoto tidak banyak bicara soal pengungkapan jaringan internasional penjualan ginjal ini. Karyoto menyampaikan pihaknya segera menuntaskan penyelidikan.
"Bentar lagi tuntas, sedang dikembangkan dulu," kata Karyoto saat dihubungi detikcom, Jumat (23/6).
Nuraisyah mengatakan penghuni kontrakan sempat berganti-ganti orang. Meski begitu, beberapa orang yang disebut sebagai penanggung jawab tetap berada di rumah.
"Nah, udah itu, jelang berapa bulan, ternyata ada pergantian orang, tapi nggak lapor. Tapi, dari lima KTP itu, masih ada yang di situ. Istilahnya ada penanggung jawab yang bayar kontrakan ada di situ. Jadi, dari lima orang ini, ada satu yang penanggung jawab, yang bayar kontrakan," tuturnya.
Advertisement
"Nah, di antara lima KTP ini, ada yang keluar, ada yang ganti orang lagi," sambungnya.
Istri ketua RT setempat, Nuraisyah, awalnya mengatakan terdapat lima orang laki-laki yang mengontrak di rumah tersebut.
"Yang punya rumah cuma bilang, 'Bu ini ada yang ngontrak di rumah saya, ada lima KTP. Laki-laki semua," ujar Nuraisyah, saat ditemui di rumahnya, Jumat (23/6/2023).
Nuraisyah menyebut, berdasarkan keterangan pemilik rumah, lima orang tersebut mengaku bekerja di proyek bangunan yang akan dikirim ke luar negeri. Namun Nuraisyah tidak mengetahui secara pasti negara mana yang dimaksud.
"Di proyek. Kalau dari yang punya rumah, ya, katanya itu kerja proyek, bangunan, tapi ke luar negeri," kata Nuraisyah.
Nuraisyah mengaku tidak mengetahui aktivitas jaringan penjualan ginjal di Tarumajaya, Kabupateen Bekasi. Namun, ia mendengar cerita bahwa pelaku sering traktir jajan anak kecil.
"Saya juga kurang tahu ya kegiatan sehari-harinya. Kalau saya dengar cerita dari orang, katanya suka main ke lapangan, suka kasih jajan anak-anak," ujar Nuraisyah.
Namun Nuraisyah mengatakan belum pernah melihat secara langsung. Ia mengatakan, berdasarkan penuturan warga sekitar, para penghuni kontrakan juga kerap pergi ke masjid.
"Cuma kayaknya saya nggak pernah melihat mereka, belum pernah melihat. Memang katanya kesehariannya suka ke masjid juga," ujarnya.
Nuraisyah mengatakan terdapat 5 orang laki-laki yang dilaporkan mengisi kontrakan tersebut. Namun Nuraisyah mengaku tidak pernah bertemu secara langsung.
Ia mengatakan, sebelumnya Ia dan suami dihubungi oleh pihak kepolisian dan diminta untuk melakukan pengecekan. Ia lantas mengecek penghuni kontrakan tersebut.
"Kemarin pak polisi minta dicek keberadaanya ada nggak di kontrakan, ternyata kata bapaknya (Pak RT) dicek nggak ada orangnya," ujar Nuraisyah saat ditemui di rumahnya, Jumat (23/6/2023).
Nuraisyah mengaku sempat mengecek KTP yang diserahkan pemilik kontrakan kepadanya. Menurut Nuraisyah, data KTP yang dimiliki sesuai dengan data orang yang dicari pihak kepolisian.
"Dan memang yang pak polisi cari ada di yang saya punya KTP-nya," ujarnya.
Sumber:detik.com



