Kredit Foto: Antara/ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi
Jakarta -Sektor moneter di Indonesia menghadapi tantangan yang cukup subtansial seiring dengan berbagai permasalahan ekonomi global yang terus berlanjut.
Akhir-akhir ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi pada Desember tahun ini bakal mencapai 5,51 persen dalam basis tahunan.
Ekonom senior INDEF, Muhammad Nawir Messi menyampaikan pencapaian tersebut berdasarkan analisis komposisi inflasi yang menunjukkan dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin kecil.
Meskipun begitu, tantangan yang dihadapi sektor moneter, dikatakan Nawir tidaklah sederhana.
"Penting untuk diperhatikan bahwa pada Oktober dan November tahun lalu, sudah ada 33 negara yang membatasi perdagangan pangan mereka, sehingga berdampak pada pasokan pangan global yang semakin terbatas dan hal itu pun dapat mendorong kenaikan harga-harga sepanjang tahun ini," terang Nawir, dikutip dari kanal YouTube INDEF, Kamis (19/10/2023).
Lantaran kondisi tersebut menunjukkan produktivitas yang rendah dan ketergantungan pada produksi domestik, ancaman terhadap pasokan pangan pada tahun 2023 menjadi lebih besar daripada yang terjadi pada tahun 2022.
"Ditambah lagi dengan potensi inflasi global yang tinggi juga telah meningkatkan ancaman inflasi dari sisi impor. Barang-barang impor ini memiliki potensi menjadi halangan. Kemudian tidakpastian mengenai kapan China akan mengakhiri kebijakan Zero Covid mereka, yang mana telah berdampak pada rantai pasok global di berbagai pasar juga telah memperumit prospek inflasi dan stabilitas ekonomi di Indonesia," tutup Nawir.
Sumber : wartaekonomi.com



