Ahad 14 April 2024, Kota Serang dihebohkan dengan munculnya video menyimpang yang dilakukan oleh pasangan sesama jenis di alun-alun Kota Serang. Perilaku menjijikan tersebut terekam oleh kamera dan kemudian viral di media sosial. Walaupun diblur oleh pengunggah video, tetapi perilaku tersebut masih tampak terlihat.
Perilaku
mereka menodai suasana idulfitri yang tengah dirayakan oleh umat muslim.
Apalagi Kota Serang cukup identik dengan budaya Islamnya sejak zaman dahulu
kala.
Menanggapi
hal tersebut, Indra Martha Rusmana, Wakil Ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim
se-Indonesia) Kota Serang menyampaikan bahwa perilaku bejat yang dilakukan oleh
sesama jenis tersebut adalah perilaku yang menjijikan dan benar-benar
keterlaluan. Karena dilakukan di tempat umum dan benar-benar menodai Kota
Serang dengan julukan kota sejuta santri dan seribu ulama.
“Perilaku
mereka itu adalah perilaku menjijikan yang bahkan binatang pun tidak
melakukannya. Artinya apa? Perilaku mereka lebih dari perilaku binatang, dan
sesungguhnya yang berlebihan itu adalah perbuatan setan,” kata Indra.
Indra
juga berharap, pihak pemerintah terutama Dinas Sosial, Satpol PP, Kementerian Agama,
dan tokoh ulama mulai memberikan edukasi kepada para pelaku sesama jenis agar
berhenti melakukannya dan bertobat kepada Sang Maha Suci, Allah Swt.
Indra
pun mengimbau kepada lembaga pendidikan agar memberikan edukasi kepada anak
didiknya mengenai bahaya penyimpangan perilaku seksual ini. Karena menurutnya,
perilaku LGBTQ ini adalah perilaku yang dilaknat oleh Allah Swt. sebagaimana
kaum Sodom atau kaum penyuka sesama jenis yang dihancurkan oleh Allah Swt.
“Lembaga
pendidikan dan pemerintah seharusnya mulai berkolaborasi agar memberikan
edukasi mengenai bahaya perilaku seks menyimpang agar ke depan tidak ada lagi
hal-hal seperti ini yang telah mencoreng nama baik Kota Serang sebagai ibukota
Provinsi Banten yang mengusung motto Iman dan Taqwa,” tutup Indra.
Hal
senada disampaikan oleh Sonny Rohimat, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota
Serang. Sonny menyampaikan bahwa semua elemen harus ikut terlibat dalam penanganan
masalah seperti ini. Bukan hanya tugas pemerintah dan Lembaga pendidikan, tapi keluarga
dan masyarakat juga harus berkolaborasi untuk mencegah dan menangani masalah
LGBT.
Ia juga berharap agar masyarakat dan juga lembaga pendidikan juga jangan memberikan panggung kepada pelaku dan perilaku menyimpang semacam LGBTQ. Menurutnya, sebenarnya perilaku seperti bukanlah kodrat manusia, melainkan penyakit yang harus diobati.
“Saat ini kita masih melihat masyarakat umum,
bahkan lembaga pendidikan seakan memberikan pembiaran, bahkan seakan-akan
memberikan panggung bagi mereka. Misalnya saat ada pesta atau event tertentu, pelaku
dan perilaku ke arah sana bahkan sengaja dihadirkan di depan publik,” pungkas
Sonny.


