Pengurus Wilayah Ikatan Guru
Indonesia (IGI) Provinsi Banten menyelenggarakan simposium yang diselenggarakan
secara virtual melalui Zoom Cloud Meetings. Kegiatan diselenggarakan pada hari
Jumat tanggal 17 Mei 2024 dan dibuka langsung oleh Ketua IGI Provinsi Banten,
Harjono. Adapun topik yang diangkat adalah penggunaan kalimat “Guru Menghamba
pada Murid” yang saat ini menjadi polemik seiring penyelenggaraan Pendidikan
Guru Penggerak (PGP) dan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM).
Padahal, sambung Sonny, istilah menghamba
identik pada pengabdian seorang manusia terhadap tuhan atau raja, atau budak
belian terhadap majikannya. Kalimat “Guru Menghamba pada Murid” dikhawatirkan banyak
pihak sebagai penghinaan terhadap guru yang seakan-akan berprofesi sebagai
budak. Hal ini juga dikhwatirkan memantik sikap tidak baik alias tidak beradab
dari para siswa dan orang tua siswa. Walaupun, para aktor PGP selalu mencoba
menjelaskan bahwa maksud kalimat “Guru Menghamba pada Murid” tidak seekstrem
itu.
Untuk membongkar masalah
tersebut, IGI Banten menghadirkan tiga narasumber yang berasal dari kalangan
pendidik. Tidak tanggung-tanggung, mereka adalah para pendidik yang religious dari
tiga agama yang berbeda, dari tiga pulau yang berbeda pula. Narasumber pertama
adalah I Nengah Asrama Juta Ningrat, Ketua MGMP Pendidikan Agama Hindu Provinsi
Bali yang aktif dalam pengembangan Kurikulum Merdeka di Kemendikbudristek.
Narasumber kedua adalah Dina Eviyana, guru SMA Negeri 1 Paku Kalimantan Tengah
yang juga aktif pada Seksi Pelayanan Perempuan Gereja Kalimantan Evangelis
(GKE) Jemaat Kupang Baru. Narasumber ketiga adalah Deden Ramdani, Kepala SMA Pesantren
Ungulan Al Bayan Anyer, Banten.
I Nengah Asrama Juta Ningrat
selaku narasumber pertama menyampaikan beberapa kutipan ajaran Hindu tentang
etika interaksi guru dan murid. Guru penggerak SMPN 1 Bangli yang juga seorang
pemangku tersebut menyampaikan bahwa dalam konteks fisik atau perilaku, maka
sejatinya siswa yang lebih relevan memberikan pelayanan atau penghormatan alias
menghamba pada guru. Namun ia menyampaikan bahwa secara figuratif, kalimat “Guru
Menghamba pada Murid” menggambarkan upaya guru memfasilitasi kebutuhan belajar
murid sesuai dengan potensi masing-masing. Selain itu, kalimat tersebut bisa
dikaitkan dengan konsep “Adhyapakah Sisyam Sewanam” yang secara kontekstual
dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memerdekakan murid.
Dina Eviyana selaku narasumber
berikutnya memberikan sudut pandang berbeda menyikapi kalimat “Guru Menghamba
pada Murid”. Dengan mengutip beberapa ayat Alkitab, Dina yang merupakan Calon
Guru Penggerak Angkatan 11 dan sempat mengundurkan diri pada Angkatan 4 ini
menyimpulkan bahwa guru menghamba kepada murid dapat dimaknai bahwa guru
memiliki kuasa untuk melayani murid dalam pendidikan. Hamba yang dimaksud bukan
dalam arti harfiah, tapi mengarahkan guru untuk melayani, mencintai tugas dan
profesi, serta menjalankannya dengan kerendahan hati.
Narasumber ketiga, Deden Ramdani,
menekankan tiga poin penting dalam memaknai kata menghamba dalam dunia pendidikan.
Pertama, guru dalam segala keputusannya harus mengutamakan kepentingan
perkembangan dan karakteristik murid sebagai acuan utama (orientasi pada siswa
atau student center). Kedua, harus mampu memahami dan memenuhi kebutuhan
murid agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien serta
menyenangkan tentunya. Ketiga, menghamba bukan berarti guru tunduk dan selalu
menuruti keinginan murid tanpa batasan dan kontrol yang jelas. Pria kelahiran
Cigalontang Tasikmalaya ini juga mengutip tulisan Syaikh Imam Az-Zarnuji bahwa
penuntut ilmu tidak akan dapat meraih ilmu dan memanfaatkan ilmunya, kecuali
dengan menghormati ilmu dan ulama, serta memuliakan dan menghormati guru.
“Semoga diskusi kita kali ini
bisa menguatkan kepada seluruh masyarakat tentang posisi guru yang selayaknya
dalam dunia pendidikan. Kita juga berharap, pemerintah khususnya
Kemendikbudristek bisa menggunakan istilah yang lebih relevan dalam konsep-konsep
pembelajaran sehingga tidak menimbulkan keresahan di kalangan guru maupun
siswa,” pungkas Sonny selaku moderator.
Kegiatan simposium diikuti oleh
ratusan peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Para peserta tampak
antusias mengikuti kegiatan yang temanya memang terbilang unik. Para penyelenggaranya
merupakan aktor PGP tetapi berani mengangkat tema yang bertolak belakang dengan
doktrin PGP.
“Temanya mencerahkan pemikiran
bahwa seorang guru harus memberikan pelayanan maksimal dan adab lebih
diutamakan daripada ilmu,” tutur Sari Komalasari dari SMKN 2 Cilegon, Banten.
“Saya menjadi memahami bahwa
maksud dari menghamba pada murid bukan serta merta menuruti apa pun keinginan
murid, tapi lebih ke arah kepekaan mengenali karakteristik dan kebutuhan murid,
namun tetap mempertimbangkan nilai-norma sosial dan kebijakan pendidikan,” ujar
Endang Saptaningwati dari SMPN 1 Bagor, Nganjuk, Jawa Timur.
“Webinar yang saya ikuti kali ini
memang benar-benar berbeda dari webinar-webinar yang sudah saya ikuti
sebelumnya. Tema yang diambil menurut saya unik dan memang patut untuk diangkat
pemahamannya, polemik yang terjadi di lapangan memang bikin gaduh dari kata
guru menghamba pada murid. Perlunya pemahaman di sini menurut saya tidak hanya
untuk guru itu sendiri tapi perlu juga tersampaikan kepada peserta didik, agar
dari kedua belah pihak dapat menerima dan memahami dari kalimat guru menghamba
pada murid,” kata Noorman Lufti Syam dari SDN 1 Purwaraja, Ciamis, Jawa Barat.





