Tegal, Chansmedia.net –
Salah satu rangkaian acara yang paling dinantikan masyarakat adalah kirab budaya dan rebutan gunungan hasil bumi. Gunungan yang tersusun dari berbagai hasil pertanian dan perkebunan, seperti sayuran, buah-buahan, palawija, serta komoditas lokal lainnya, diarak mengelilingi kawasan wisata sebelum akhirnya diperebutkan oleh warga dan wisatawan yang hadir.
Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah berbaur dalam suasana kebersamaan untuk mendapatkan bagian dari isi gunungan yang diyakini sebagai simbol keberkahan, kemakmuran, keselamatan, dan harapan akan rezeki yang melimpah.
Tradisi rebutan gunungan tidak hanya menjadi atraksi budaya yang menarik perhatian wisatawan, tetapi juga merefleksikan kuatnya nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, serta rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang telah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Ketua Masyarakat Adat Reksawana Guci, Sobirin, menjelaskan bahwa gunungan yang diarak dalam prosesi Ruwat Bumi bukan sekadar tumpukan hasil pertanian. Di balik setiap unsur yang tersusun di dalamnya, terkandung filosofi kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
“Gunungan merupakan simbol rasa syukur masyarakat atas berkah alam yang diberikan. Selain itu, juga menjadi pengingat pentingnya berbagi, menjaga keseimbangan dengan alam, serta memperkuat persaudaraan di tengah kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi ini merupakan warisan budaya yang harus terus dilestarikan karena mengandung nilai-nilai luhur yang relevan sepanjang zaman. Melalui Ruwat Bumi, masyarakat diajak untuk tidak melupakan akar budaya sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah arus modernisasi.
Dengan tingginya partisipasi masyarakat dan wisatawan setiap tahunnya, Ruwat Bumi Guci terus membuktikan diri sebagai salah satu agenda budaya unggulan yang tidak hanya menjadi sarana pelestarian tradisi, tetapi juga mampu mendorong sektor pariwisata serta perekonomian masyarakat lokal.
Perayaan yang berlangsung khidmat sekaligus meriah tersebut menjadi cerminan harmonis antara budaya, spiritualitas, dan kearifan lokal yang tetap hidup serta terjaga di tengah perkembangan zaman.



