Alunan Kidung dan Parawangsa Menggema di Sekretariat FKMGS, Upaya Lestarikan Budaya Sunda di Momen Muharram

Alunan Kidung dan Parawangsa Menggema di Sekretariat FKMGS, Upaya Lestarikan Budaya Sunda di Momen Muharram



Bogor– Alunan musik tradisional Sunda berupa kidung dan Parawangsa menggema di Sekretariat Forum Komunikasi Masyarakat Gunung Salak (FKMGS) dalam sebuah kegiatan pelestarian budaya yang bertepatan dengan momen Tahun Baru Islam 1 Muharram. Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkenalkan kembali kekayaan seni tradisional Sunda kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.senin (6/7/26)


Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Gunung Salak (FKMGS) Daeng menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam menjaga dan memperkenalkan warisan budaya Sunda yang telah diwariskan oleh para leluhur.


"Acara ini bertujuan untuk lebih mengenalkan budaya Sunda. Kebetulan juga bertepatan dengan momen Muharram. Kami dari FKMGS merasa sudah seharusnya mengingat jati diri kita sebagai masyarakat Tatar Sunda. Di tanah Sunda ini terdapat kesenian yang luar biasa sebagai warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan," ujarnya.


Sementara itu, penggiat seni tradisional, Madun, menjelaskan bahwa kidung dan Parawangsa memiliki nilai filosofis yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Sunda sejak zaman dahulu.


"Kami menjalankan kebiasaan orang tua kita terdahulu, di mana setiap kegiatan ritual selalu diiringi dengan rajah, berupa mantra atau doa sebagai bentuk dialog spiritual dengan para leluhur, yang biasanya menggunakan iringan kecapi. Selain itu, ada juga Parawangsa yang menjadi simbol rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh alam," jelas Madun.


Ia menambahkan, saat ini para pelestari seni tradisional terus melakukan berbagai inovasi agar musik tradisional Sunda tidak hanya dikenal dalam ruang-ruang ritual, tetapi juga dapat diterima oleh masyarakat luas melalui berbagai kegiatan umum.


"Kami bersama beberapa komunitas pelestari seni terus berinovasi agar musik tradisional ini bisa diterima di ruang publik. Selama ini kami juga sering tampil dalam kegiatan Seren Taun maupun peringatan Hari Jadi Bogor (HJB). Kami ingin musik tradisional lebih dikenal masyarakat, sehingga dalam berbagai kegiatan kami selalu berupaya hadir. Jika hanya dimainkan dalam ritual, tentu akan lebih sulit memperkenalkan seni tradisional ini kepada generasi sekarang," tambahnya.


Melalui kegiatan tersebut, FKMGS berharap kesenian tradisional Sunda tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi penerus. Organisasi yang berada di kawasan Gunung Salak itu juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat Sunda.


"Kami berharap budaya Sunda, khususnya seni musik tradisional, tetap terjaga kelestariannya. Darah para leluhur mengalir dalam diri kita semua. Sebagai masyarakat yang tinggal di kawasan Gunung Salak, kami berharap semakin banyak masyarakat yang mau mendengar, mengenal, dan mencintai seni musik tradisional Sunda sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa," pungkas Ketua FKMGS.


Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh kekhidmatan, menghadirkan alunan kidung dan musik Parawangsa yang sarat makna, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman.



(WA)

Baca Juga Brow
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan

 


Iklan

 


نموذج الاتصال