Ketua Lembaga Adat Pasukan To Manurung Sulawesi, Ryan Latief La Kaseng, menyampaikan pesan kebangsaan mendalam yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Tokoh masyarakat Sulawesi yang juga mantan Panglima Pemenangan Prabowo-Hatta (Pilpres 2014) dan Prabowo-Sandi (Pilpres 2019) tersebut mengingatkan agar penyelenggaraan negara benar-benar tegak lurus pada amanat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Ryan Latief menegaskan bahwa Pembukaan UUD 1945 tidak boleh berhenti sebagai naskah seremoni semata, melainkan harus dihidupkan sebagai kompas moral dan pedoman tertinggi dalam setiap kebijakan publik.
Kompas Moral dan Realitas Kebangsaan
"Pembukaan UUD 1945 bukan sekadar naskah historis yang dibacakan dalam seremoni, melainkan ikrar suci dan kompas moral kebangsaan. Namun, ketika kita menatap realitas hari ini, masih membentang jarak yang nyata antara idealisme konstitusi dan kenyataan di tanah air," ujar Ryan Latief.
Ia menyoroti bahwa perjuangan bangsa saat ini berada pada tahap krusial, di mana kedaulatan tidak hanya diukur dari kebebasan fisik dari penjajahan luar, melainkan dari sejauh mana rakyat memiliki wewenang penuh atas tanah, air, sumber daya alam, dan kemandirian ekonomi dari cengkeraman hegemoni global.
Penegakan Hukum dan Ketimpangan Pembangunan
Sebagai sosok yang sejak awal mengawal perjuangan politik Prabowo Subianto, Ryan Latief menggarisbawahi pentingnya menghadirkan rasa keadilan yang merata. Cita-cita mengantarkan rakyat ke depan pintu gerbang kemakmuran dituntut tidak boleh menyisakan ketimpangan antarwilayah maupun diskriminasi hukum.
"Kemakmuran tanpa keadilan sosial hanyalah ilusi yang mencederai amanat para leluhur bangsa. Hukum harus berdiri tegak tanpa pandang bulu—tidak boleh tumpul ke atas dan tajam ke bawah," tegasnya.
Spiritualitas dan Marwah Kedaulatan Rakyat
Mewakili suara kearifan lokal, Lembaga Adat Pasukan To Manurung menilai bahwa pengakuan atas "rahmat Allah Yang Maha Kuasa" dalam konstitusi mempertemukan nilai ketuhanan dengan falsafah adat Nusantara. Nilai-nilai gotong royong dan kebudayaan harus tetap dijaga kebersihannya dari campur tangan politik sektarian.
Ryan Latief meminta Presiden Prabowo untuk memastikan bahwa demokrasi Indonesia kembali pada marwah utamanya: dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan, bukan terdistorsi oleh kekuatan modal. Anggaran pendidikan dan jaminan sosial diharapkan benar-benar menyentuh masyarakat hingga ke pelosok negeri.
Pesan Penutup
Bagi Ryan Latief dan Pasukan Adat To Manurung, indikator keberhasilan kepemimpinan nasional saat ini terletak pada penegakan Sila Ke-5 Pancasila (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia) serta perlindungan nyata terhadap kedaulatan hak-hak rakyat atas tanah airnya sendiri. Negara diharapkan hadir secara utuh untuk melindungi dan memanusiakan seluruh warga bangsa.
( SH)


