Cirebon, Chansmedia.net – Nuansa religius dan kentalnya tradisi budaya kembali terasa di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon.
Menyambut rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, Keraton Kasepuhan kembali menggelar tradisi Apeman, sebuah ritual budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi tersebut berlangsung khidmat di kawasan Langgar Alit, Keraton Kasepuhan Cirebon, dengan dihadiri masyarakat serta keluarga besar keraton.
Prosesi diisi dengan doa bersama yang dipimpin para tokoh agama sebagai bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus ikhtiar spiritual memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Apeman bukan sekadar tradisi budaya yang terus dipertahankan. Di balik rangkaian prosesi tersebut tersimpan nilai-nilai religius yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cirebon sejak generasi terdahulu.
Doa bersama menjadi inti kegiatan, dengan harapan masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, ketenteraman, keberkahan, serta dijauhkan dari berbagai marabahaya.
Suasana sakral begitu terasa ketika lantunan doa menggema di kawasan Langgar Alit.
Masyarakat dan keluarga besar Keraton Kasepuhan tampak menyatu dalam suasana penuh khidmat, menjadikan momentum tersebut sebagai ruang untuk mempererat kebersamaan sekaligus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Bagi Keraton Kasepuhan, pelestarian tradisi Apeman juga menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah Islam di Cirebon.
Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut menjadi pengingat bahwa kebudayaan dan nilai-nilai keagamaan dapat berjalan berdampingan, saling menguatkan dalam kehidupan masyarakat.
Digelarnya Apeman sekaligus menandai dimulainya rangkaian kegiatan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Keraton Kasepuhan Cirebon.
Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut diharapkan tetap menjadi ruang refleksi bagi generasi penerus untuk memahami makna syukur, doa, kebersamaan, serta pentingnya menjaga warisan leluhur.
Sebab, di balik setiap tradisi yang diwariskan, terdapat pesan moral yang jauh lebih dalam: merawat budaya berarti menjaga ingatan, sementara merawat nilai agama berarti menjaga arah kehidupan.


