Batam, Chansmedia.net-
Pergerakan harga di Kota Batam menjadi perhatian dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam, Rabu (9/9/2026). Meski secara bulanan Batam mengalami deflasi, sejumlah komoditas masih mencatat kenaikan sehingga pengendalian pasokan dan distribusi tetap menjadi perhatian.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Batam mengalami deflasi 0,20 persen secara bulanan ada Agustus 2026. Capaian itu melanjutkan deflasi pada Juli sebesar 0,26 persen.
Secara tahunan Batam masih mencatat inflasi 4,03 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,53 persen.
Dalam rapat tersebut, Pemerintah Kota Batam bersama Bank Indonesia, BPS dan instansi terkait mengevaluasi pergerakan harga sekaligus memperkuat langkah menjaga stabilitas harga. Perhatian terutama diarahkan pada ketersediaan dan kelancaran pasokan pangan yang masih rentan terhadap gangguan distribusi.
Tiket Pesawat Jadi Penekan Terbesar
Pada Agustus, kelompok transportasi menjadi penyumbang deflasi terbesar. Angkutan udara memberikan andil deflasi 0,41 persen, seiring penurunan harga tiket pesawat sebesar 17,51 persen.
Penurunan harga juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Beberapa komoditas sayuran mengalami penurunan cukup dalam, yakni bayam 49,38 persen, kangkung 38,69 persen, dan tomat 18,23 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas masih mengalami kenaikan harga. Emas perhiasan, angkutan laut, air kemasan, semangka, dan udang basah tercatat memberikan andil terhadap inflasi bulanan.
Tekanan harga juga masih terlihat secara tahunan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 5,09 persen dengan andil 1,46 persen. Kelompok transportasi mencatat inflasi 5,17 persen dengan andil 0,71 persen.
Sementara itu, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, sebesar 10,49 persen. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi harga emas perhiasan yang memberikan andil 0,64 persen.
Pasokan Pangan Jadi Perhatian
Kondisi tersebut membuat pengendalian pasokan menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan TPID. Sebagai wilayah kepulauan, Batam masih bergantung pada pasokan sejumlah komoditas dari luar daerah sehingga gangguan cuaca, transportasi maupun distribusi dapat memengaruhi harga.
Karena itu, strategi pengendalian diarahkan tidak hanya pada penanganan ketika harga sudah naik, tetapi juga pada langkah antisipasi. Kerja Sama Antar Daerah (KAD) diperkuat untuk menjaga kesinambungan pasokan, disertai sistem peringatan dini terhadap pergerakan harga.
Upaya memperkuat produksi pangan lokal melalui urban farming dan digital farming juga terus didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Koordinasi dengan distributor dan daerah pemasok menjadi bagian penting agar ketersediaan komoditas strategis tetap terjaga, terutama menghadapi potensi tekanan harga pada periode berikutnya.
Deflasi 0,20 persen pada Agustus menunjukkan tekanan harga di Batam mulai mereda. Namun, hasil evaluasi TPID menegaskan pentingnya menjaga pasokan dan kelancaran distribusi agar tren positif tersebut dapat dipertahankan hingga akhir tahun.
(Izazat karunia)


